Broken Wings

Yang orang lihat hanya kekurangan ku,

 

CACAT


"lihat dia, sayap nya hanya satu dan masih bermimpi untuk terbang"

kata-kata mereka cukup menyakitkan

setidaknya buat ku patah semangat dan ingin menyerah.

dalam pikir ku, 

"kalau aku menyerah sekarang, artinya ucapan mereka benar?"

 

Dalam diam aku berdoa, minta dikuatkan dan terus bertahan,

mencoba lagi dan lagi,

bermimpi untuk dapat terbang seperti yg lain.

 

Sempat terlintas di pikiran ku,

"kenapa aku Tuhan?"

"kenapa Tuhan membuat aku berbeda dari yg lain?"

"kenapa harus aku?"

 

Ada hari dimana ingin rasanya menyerah saja,

pesimis dan menjadi realistis,

"benar kata orang, bagaimana mungkin terbang dengan satu sayap?"

 "sepertinya ini memang takdir dan garis hidup ku,

menjadi berbeda dari yg lain"

"menyerah lebih mudah daripada bertahan" 

 

Hingga suatu pagi, aku mendengar kicauan seekor burung

tapi kali ini suaranya seperti kesakitan,

 ternyata burung tersebut terjatuh dari sarang nya,

aku pun membawa burung kecil itu dan memanjat pohon.

 

Sarang tersebut sudah kosong,

tidak ada satu burung pun disana.

Setelah ku perhatikan,

ternyata burung yg ada ditangan ku ini terluka,

sayapnya patah.

 

 Aku melihat matanya,

dan dalam tatapannya,

aku melihat bayangan ku sendiri.

 

Waktu pun berlalu, 

sejak saat itu aku hanya fokus untuk merawat dia.

Kemudian suatu pagi,

aku tidak melihat burung itu lagi,

"loh, apakah dia dimangsa hewan lain?"

"apakah dia terjatuh lagi di suatu tempat?" 

  "apa dia dimakan ular?"

 

Kemudian suaranya terdengar dari luar,

seperti memanggil,

aku keluar dan melihat dia di langit,

terbang bebas mengitari aku,

si burung kecil dan terluka itu,

sekarang sudah kuat dan bebas,

 

Sejak saat itu,

harapan ku mulai ada lagi,

 

kali ini,

dengan penerimaan,

 

kali ini,

aku akan terus mencoba.

 

Aku mulai dari atap rumah tua,

bukan dari langit.

Setiap kali jatuh,

aku hitung,

bukan untuk menghukum diri,

tapi untuk mengingat berapa kali aku bangkit. 

 

Aku jatuh,

aku mencoba lagi,

angin menolak,

tapi aku menolak lebih keras.

   

Namun,

kata kata itu masih ada saja,

 "untuk apa aku berusaha kalau ujung nya tetap jatuh?" 

 

 pagi itu,

langit seperti mengolok,

kabut tebal,

hujan turun,

membuat ku mulai goyah,

kenapa seolah olah,

apa yg ku lakukan ini tidak bisa berjalan lacar,

kenapa rasanya aku dihalangi untuk terus mencoba.

 

Aku mulai melihat cermin,

setiap kali aku mencoba mengepakan sayap ku,

sakit, perih,

ia mulai rapuh,

kusam,

dan ternyata banyak luka.

 

Hari itu aku memang berhenti mencoba,

tapi semangat ku masih ada.

 

Hari baru, 

cerita baru,

aku mulai berlari,

melewati tebing rendah,

aku jatuh,

aku mencoba lagi.

 

Hari itu,

 aku berhasil melayang,

 satu jengkal dari tanah,

tak lama,

aku jatuh lagi,

tapi entah kenapa,

kali ini aku tersenyum. 

 

Seiring waktu,

langit mulai bersahabat,

mendukung,

angin terasa ramah,

bulu baru jg mulai tumbuh,

seperti bercahaya lagi,

ditemani dia,

burung kecil yg sudah menjadi gagah.  

  

Lihat aku sekarang,

aku ada di langit,

walaupun sayap ku masih satu,

dan terbang ku mungkin berbeda,

aku bahagia,

ternyata menjadi berbeda itu, 

sekarang bisa semenyenangkan ini. 

 

Tidak lagi aku menyalahkan Tuhan,

"waktu Tuhan itu sempurna"

"Terima kasih karena memilih aku Tuhan"

"Terima kasih karena percaya aku mampu Tuhan" 

 

seorang anak laki2,

dengan satu sayap nya,

sekarang terbang di langit, 

 "Terima kasih diri ku untuk terus bertahan,

dan terus mencoba"

 

 

Tapi cerita ini bukan hanya tentang sebuah sayap 

by. dio adhinatapraya

 


 Special Thanks untuk Indah, yg membuat gambar ilustrasi ini. 

Comments

  1. Wow, so beautifull!! It's a powerful story of defiance and resilience. The imagery of the one-winged boy carving the air and teaching "imbalance to dance" is incredibly moving. It's a fantastic reminder that our perceived flaws can be our greatest strengths. Keep writing ~

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts